Dari Hafalan Menuju Penciptaan: Refleksi Hardiknas 2026 di MTs Negeri 6 Batang Hari
Oleh: Herly Octasaputra, S.Pd., M.Pd.
Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi saat yang tepat untuk menjawabnya. Jika merujuk pada Taksonomi Bloom, hafalan memang berada pada level paling dasar: mengingat. Namun, pendidikan tidak pernah dirancang untuk berhenti di sana. Tujuan akhirnya adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi: memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.
Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman. Hafalan dalam pendidikan madrasah bukanlah titik akhir, melainkan fondasi. Siswa yang menghafal ayat Al-Qur’an atau hadis sejatinya sedang membangun basis pengetahuan yang kuat. Dari sinilah proses berpikir dapat berkembang—bukan hanya memahami makna, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas kehidupan.
Di MTs Negeri 6 Batang Hari, arah pembelajaran terus bergerak ke sana. Hafalan tidak dibiarkan menjadi aktivitas mekanis. Ia dihidupkan melalui diskusi, analisis, dan praktik nyata. Dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadis, siswa tidak hanya mengingat teks, tetapi juga menafsirkan dan menghubungkannya dengan fenomena sosial di sekitar mereka. Dalam fikih, siswa diajak mengkaji kasus-kasus aktual sehingga mampu melihat hukum tidak sekadar sebagai teori, tetapi sebagai solusi.
Lebih dari itu, siswa juga didorong untuk sampai pada level mencipta. Mereka diberi ruang untuk mengekspresikan gagasan melalui pidato, karya tulis, hingga konten digital bernuansa edukatif dan religius. Proses ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dihafal tidak berhenti di ingatan, tetapi berkembang menjadi pemikiran dan karya.
Inilah semangat yang sejalan dengan Hardiknas 2026: pendidikan yang tidak hanya membuat siswa tahu, tetapi juga mampu mengolah, menilai, dan menghasilkan sesuatu yang bermakna.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Madrasah bukan sekadar tempat menghafal, tetapi tempat membangun cara berpikir. Dari hafalan yang kuat, lahir pemahaman yang dalam. Dari pemahaman, tumbuh analisis. Dan dari analisis, tercipta gagasan serta karya.
Akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “apakah madrasah banyak hafalan?”, melainkan “sejauh mana hafalan itu melahirkan pemikiran dan penciptaan?”.Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Mari terus bergerak—dari mengingat menuju mencipta, dari pengetahuan menuju peradaban.
Tentang Penulis:
Mewujudkan
Madrasah yang Mengasuh: Refleksi atas Kurikulum Cinta
Oleh: Herly Octasaputra, Guru MTs Negeri 6 Batanghari
Kementerian Agama RI
baru-baru ini menggagas Kurikulum Cinta untuk madrasah, sebuah inovasi
yang menjadikan cinta sebagai nilai utama dalam pendidikan. Cinta yang
ditanamkan dalam Kurikulum Cinta bukan sekadar rasa simpati antar manusia,
tetapi meluas hingga cinta yang luhur kepada Allah dan Rasul-Nya, penghormatan
mendalam kepada orang tua dan guru, kepedulian hangat kepada teman sebaya, serta
kasih yang tulus terhadap alam dan seluruh ciptaan-Nya.
Sebagai guru yang
mengampu mata pelajaran bahasa Indonesia di MTs, saya menyambut positif gagasan
ini. Kurikulum ini bukan sekadar tambahan materi, tapi paradigma baru yang
menempatkan kasih sayang dan empati sebagai dasar pembelajaran. Ini berbeda
dengan Kurikulum Merdeka yang lebih menekankan kebebasan belajar dan
pengembangan potensi siswa, serta Kurikulum 2013 yang lebih fokus pada capaian
akademik dan keterampilan.
Keunggulan Kurikulum
Cinta terletak pada pendekatan holistiknya yang mengintegrasikan aspek
spiritual, sosial, dan emosional secara menyeluruh. Dengan menanamkan cinta
kepada Allah, sesama manusia, dan lingkungan, siswa dibentuk menjadi pribadi
yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia. Selain itu, suasana belajar yang
penuh cinta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, mendukung perkembangan
psikologis siswa.
Strategi penerapannya
harus menyentuh kehidupan sehari-hari, seperti pembiasaan doa bersama,
pengajian, kegiatan sosial, dan teladan dari guru maupun kepala madrasah.
Pembelajaran juga harus kontekstual, mengaitkan materi dengan nilai cinta,
serta menyediakan ruang konseling agar siswa merasa didengar dan dihargai.
Melibatkan orang tua dan komunitas juga penting agar nilai cinta tumbuh di luar
madrasah.
Tantangan tentu ada,
terutama dalam perubahan budaya dan pelatihan guru. Namun saya optimistis,
dengan dukungan semua pihak, Kurikulum Cinta dapat membawa transformasi
pendidikan madrasah yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menyehatkan
jiwa. Karena guru sejatinya bukan hanya pengajar, tapi juga pengasuh yang penuh
cinta.
Tentang Penulis:
Sukses butuh pendidikan. Sebagian dari kebanyakan orang berpendapat bahwa kesuksesan tidak butuh pendidikan, asalkan kerja keras. Mungkin patokan dari sebagian orang ini adalah mereka-mereka yang sukses tanpa harus sekolah dan bergelar, sebut saja.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No. 20 Tahun 2003).
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak (wikipedia).
Pendidikan adalah usaha seseorang untuk memperoleh didikan atau menjadi terdidik. Menjadi terdidik tidaklah mengabaikan proses belajar (Vebrianti Umar).
Tidak bersekolah hanya tidak duduk di bangku sekolah, tidak berkesempatan bercanda gurau dengan teman-teman dan lain sebagainya. Tetapi tidak berpendidikan berarti tidak memiliki kesadaran bahwa hidup ini adalah belajar. Belajar bukan hanya tentang materi yang diberikan di sekolah, tetapi juga tentang belajar memahami bahwa dunia ini tidak begini-begini saja, dunia ini berkembang. Seiring pemahaman itu, akan muncul semangat untuk ingin tahu, semangat untuk bekerja, semangat untuk berkreasi dan ujung-ujungnya adalah mempelajari apa yang tidak tahu itu untuk modal menjadi cerdas, kreatif, dan sukses. Jadi kata siapa sukses tidak butuh pendidikan?
Para penjual dunia online yang lagi marak dengan promosi bahwa, ”saya hanya seorang bla bla, tapi bisa meraih puluhan juta rupiah” atau petani yang sukses dengan hasil pertaniannya, padahal beliau tidak pernah sekolah. Tidakkah terpikir bahwa para penjual tersebut tidak sontak langsung sukses, mereka belajar terlebih dahulu mulai dari mengolah kata untuk promosi yang menarik, belajar bagaimana menjalankan sebuah bisinis.
Begitupun para petani tersebut, suksesnya tidak datang begitu saja. Ada proses belajar, bagaimana agar tanaman bisa tumbuh subur, bagaimana tanaman terhindar dari hama, dan bagaimana memperoleh hasil yang baik. Semua berawal dari belajar. Scroll up lagi ke atas, pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan seterusnya. Lalu bagaimana bisa sukses tanpa pendidikan?
Jangan sembarangan berpendapat! Sebaiknya pahami dulu apa itu pendidikan. Pendidikan itu penting, apalagi disertai semangat kerja keras, pantang menyerah, dan fokus. Namun perlu diingat, bahwa orang-orang sukses yang bergelar akademik pun juga banyak. Jadi, berpendidikan dan bergelar disertai semangat kerja keras, pantang menyerah, dan fokus tentu saja lebih baik.
Sukses bukan hanya tentang kerja keras! Kerja keras tanpa kecerdasan hasilnya yah ala kadarnya. Sekali lagi, kecerdasan tidak datang cuma-cuma, melainkan mengaitkan proses berpikir dan belajar di dalamnya yang tentu saja tidak terelakkan dari kata pendidikan. Berarti sukses butuh pendidikan ! (Oleh Idham Kholid, S.Pd.I. M.Pd.I guru MTsN 6 Batang Hari/ Editor : Imaroh, S.Ag)
Memperingati HUT RI ke-74 sudah nampak dari jauh-jauh hari tampilan Spanduk, lampu hias, bendera, sampai baliho-baliho besar bertuliskan ucapan “Dirgahayu Kemerdekaan” menghiasi jalan-jalan raya. Iklan-iklan ucapan selamat hari kemerdekaan dan acara spesial kemerdekaan dimedia massa pun bertebaran menambah semaraknya menyambut hari bersejarah itu.
Suatu Negara bisa dikatakan merdeka secara hakiki apabila kemerdekaan tersebut terjadi secara menyeluruh dalam semua pilar-pilarnya. Kemerdekaan tersebut bukan hanya dalam konteks Negara semata tetapi juga individu dan masyarakat yang menjadi pengisi sebuah Negara. Dalam konteks individu kemerdekaan berarti terbebasnya seseorang dari tekanan hawa nafsunya dalam melakukan segala aktifitasnya. Menurut DR. Ing. Fahmi Amhar (Arti Kemerdekaan Hakiki dalam Perspektif Islam, 2001), individu yang merdeka ialah seorang yang ketika ia bersikap dan berperilaku akan selalu di dasarkan kepada pertimbangan rasional. Dan bagi orang yang beriman pertimbangan rasionalnya adalah ketika ia menyandarkan segala perbuatannya kepada aturan Allah swt. Imam Ali ra. mengibaratkan hal tersebut dalam satu ungkapan; ”Seorang budak beramal karena takut hukuman, pedagang beramal karena menginginkan keuntungan, dan orang merdeka beramal karena mengharap keridhaan dari Allah swt.”
Maka jika ada seorang manusia dalam kehidupannya senantiasa dikendalikan hawa nafsu maka berarti dia belum menjadi orang merdeka yang sebenarnya. Meskipun ia bukan seorang budak dan hidup di sebuah masyarakat dan Negara merdeka. Karena ia terbelenggu oleh hawa nafsunya yang senantia memaksanya untuk melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan akal sehatnya. Kehidupannya selalu terjajah oleh hawa nafsunya sendiri sehingga mengakibatkan terjerumusnya ia kejurang kebinasaan baik di dunia maupun di akhirat. Allah swt. berfirman:



Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Naazi’aat:37-39).
PUASA RAMADHAN SEBAGAI UPAYA BULAN UNTUK MEMPERBAIKI DIRI
Seperti kita ketahui bersama bahwa saat ini kita sedang berada dalam dalam bulan suci ramadhan, di mana dalam bulan suci ramadhan ini ada banyak hal yang harus membuat manusia untuk introspeksi diri, mengapa demikian karena dengan berpuasa ini kita banyak merasakan hal-hal untuk memperbaiki diri kita. Misalnya jika pada hari biasa kita berbuat seenaknya saja makan minum atau berlaku sembarangan lah. Namun di bulan ramadhan ini seharusnya kita bisa mengontrol diri jika ingin berbuat.
Jika melihat hal tersebut mari kita hubungkan dengan fakta di lapangan, benarkah demikian adanya. Saat ini jika kita melihat fakta di lapangan ternyata masih banyak orang yang belum bisa mengontrol diri dalam melaukan hal-hal yang dilarang Allah, meski dalam keadaan berpuasa ramadhan. Hal ini patut kiranya kita telusuri bersama, mengapa hal demikian bisa terjadi. Benarkah orang belum sadar jika dirinya sedang berada dalam bulan ramadhan, bulan yang suci yang seharusnya seorang manusia tidak menodainya dengan perbuatan-perbuatan yang dolarang Allah. Sehingga orang tidak takut lagi akan adanya Allah yang seharusnya ditakuti jika akan melanggar apa yang dilarang Allah SWT.
Hal inilah yang patut kita ketahui bersama dan seharusnya puasa Ramadhan merupakan wadah untuk melatih kita untuk bersabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan, dengan utuan agar bertaqwa kepada Allah SWT. Orang yang berpuasa berupaya untuk menahan diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan dan mengurangi nilai-nilai ibadah puasa. Bukan hanya menahan lapar dan haus saja, namun puasa juga menjadi alat untuk mengontrol diri dari menahan emosional dan hawa nafsu. Sehingga berpuasa dapat menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani.
Oleh karena itu kita harus yakin bahwa puasa ramadhan merupakan momentum untuk melakukan peleburan dosa. Hal ini sesuai dengan sabda Rasullah SAW :
“Setiap hamba yang berpuasa di jalan Allah, Allah akan menjauhkannya dari api neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun” (H. R. Bukhari Muslim).
Jadi muslim yang baik tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ia dapatkan selama berada di bulan Ramadhan saja. Mari selaku umat manusia menjadi insan yang islami dan jadikan bulan Ramadhan ini bulan yang memperbaiki diri kita. Sehingga apa yang kita lakukan di bulan suci ramadhan akan bernilai fahala dihadapan Allah SWT kelak di akhirat nanti. (Oleh Idham Kholid, S.Pd.I. M.Pd.I guru MTsN 6 Batang Hari/ Editor : Imaroh, S.Ag)
Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya
Memuat tanggal...