
Batang Hari (MTsN 6 Batang Hari)
Udara pagi di MTsN 6 Batang Hari, Jumat (15/08/2025), begitu bening, seakan baru saja dibasuh embun. Semilir angin menyapu lembut halaman madrasah, membuat ujung sajadah para siswa bergetar pelan. Cahaya matahari menembus sela dedaunan, memantulkan kilau ke wajah-wajah muda yang duduk bersila, rapi dalam barisan.
Suasana hening, hanya suara lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengalun dari pengeras suara. Irama bacaan siswa kelas 8.3 petugas yasinan pagi itu mengalir tenang namun berwibawa, kadang meninggi di ujung ayat, lalu jatuh lembut seperti ombak yang surut. Doa pun dipanjatkan, penuh pengharapan, dengan nada yang bergetar seolah setiap kata mengetuk pintu langit.
Lalu, keheningan sejenak menyelimuti halaman. Mikrofon perlahan berpindah tangan. Dari barisan, seorang siswi melangkah maju Nurrizka Rahmadani. Langkahnya mantap namun tenang, seakan setiap injakan telah diatur ritmenya. Ia berdiri di depan hadirin, menarik napas singkat, lalu menatap audiens dengan sorot mata yang hangat tapi tegas.
“Lisan ini kecil… tetapi dampaknya besar,†suaranya jernih, nyaring namun tidak menusuk, mengalun jelas di antara barisan siswa. Setiap kata diucapkan dengan jeda yang pas, memberi ruang bagi pendengar untuk mencerna. Tangannya bergerak pelan, kadang mengangkat telapak sebagai penekanan, kadang mengepal ringan saat menyampaikan peringatan.
Ketika mengutip hadits Rasulullah SAW‘ Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam’ intonasinya melambat, matanya menyapu hadirin, seperti ingin memastikan pesan itu menembus hati setiap orang.
Di barisan tengah, beberapa siswa mengangguk pelan, sementara di sudut lain ada yang tersenyum tipis, seakan tersadar akan pengalaman pribadi yang selaras dengan nasihat itu. Suara Nurrizka mengalir seperti petuah kakak kepada adik, hangat tapi meninggalkan kesan yang kuat.
Kultum ditutup dengan doa bersama. Jemari-jemari kecil terangkat, bibir bergerak pelan memohon agar hati dijaga dari niat buruk, dan lisan terhindar dari ucapan yang sia-sia. Angin kembali berhembus, membawa doa-doa itu ke langit yang cerah.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MTsN 6 Batang Hari, Rahmat, menutup kegiatan dengan senyum bangga. “Kalian telah menjalankan tugas dengan baik. Semoga kegiatan seperti ini terus menumbuhkan akhlak mulia di madrasah kita,†ujarnya.
Pagi itu, halaman madrasah bukan sekadar menjadi tempat berkumpul ia menjelma menjadi panggung kecil tempat kesadaran tumbuh. Dan di tengah panggung itu, Nurrizka berdiri sebagai pengingat, bahwa menjaga lisan berarti menjaga kehormatan diri. (IM)
|
131x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya
Memuat tanggal...