
Batang Hari (MTsN 6 Batang Hari)
Sore itu, langit Muara Tembesi seakan menyimpan rahasia. Awan kelabu menggantung rendah, berat seperti ingin jatuh menimpa bumi perkemahan. Angin membawa aroma tanah basah, meniupkan kabar bahwa malam ini akan lahir sebuah kisah.
Mentari tenggelam lebih cepat, ditelan gulungan awan. Lampu-lampu panggung menembus kabut tipis, membentuk lorong cahaya yang memanggil penonton untuk mendekat. Di balik tirai hujan yang mulai rintik, siluet para penari MTs Negeri 6 Batang Hari berdiri kaku napas tertahan, mata menyala, siap menembus dingin malam.
Dan hujan pun datang. Awalnya malu-malu, lalu deras, menurunkan tirai air yang membatasi dunia luar dan panggung. Namun tak ada satu pun yang pergi. Payung terbuka, jas hujan dikenakan, tapi tatapan semua orang tetap terpaku ke tengah cahaya.
Lalu cling! sebuah nada tipis melayang di udara, seperti isyarat tak terlihat. Hentakan kaki pertama memecah genangan, mengirim percikan berkilau ke udara. Busana tradisional mereka basah, namun setiap helai kain yang berkibar justru menambah dramatis gerakan. Di bawah sorot lampu, hujan berubah menjadi ribuan bintang yang jatuh.
Gerakan mereka bukan sekadar tarian, melainkan puisi yang ditulis dengan tubuh mengalun lembut, menghentak berani, lalu diam sesaat, seolah berbicara lewat keheningan. Musik mengalir seperti arus sungai, memadukan bunyi gamelan yang mengakar pada tanah dengan dentum modern yang membelah udara.
Tepuk tangan meledak sebelum puncak tarian tiba. Hujan, yang awalnya ancaman, kini menjadi rekan yang sempurna. Setiap langkah menciptakan percikan yang menari sendiri di udara, setiap hentakan memahat ingatan yang tak akan mudah hilang.
Selasa (12/8/2025) di Bumi Perkemahan Kecamatan Muara Tembesi, dua minggu latihan tanpa kenal lelah berbuah gemilang. “Kami berlatih penuh semangat. Meskipun suasana hujan, rasanya luar biasa melihat semua orang tetap menikmati tampilan kita dipanggung,†ujar salah satu penari Oktaria Susanti dengan senyum yang tak kalah terang dari lampu panggung.
Di barisan depan, Kepala MTsN 6 Batang Hari, Suyatno, berdiri dengan bangga. “Ini bukan hanya pertunjukan. Ini pelestarian budaya, latihan keberanian, dan bukti bahwa anak-anak kita bisa bersinar di panggung mana pun bahkan di bawah hujan,†ucapnya mantap.
Pelatih tari, Huzaifah, pun mengakui kebahagiaannya. “Meski hujan deras, mereka tetap menari dengan hati. Itu yang membuat malam ini begitu berkesan,†ujarnya.
Malam itu, hujan tak pernah berhenti. Namun di tengah derasnya air yang jatuh dari langit, Grup Tari MTsN 6 Batang Hari menorehkan cerita tentang keteguhan yang menolak padam, persatuan yang menghangatkan, dan keindahan yang akan selalu dikenang di Jamran 2025. (IM)
|
584x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya
Memuat tanggal...